Muhammad Zaki Aziz
1113018200040
Psikologi Pendidikan
I. Latar Belakang
Pada dasarnya belajar adalah suatu
proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri seorang
individu sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk
memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku,
keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
Seorang
peneliti terkemuka bernama Jerome S. Brunner memberikan beberapa gambaran
tentang kebutuhan teori belajar pada proses pembelajaran. Teori pembelajaran merupakan penyedia panduan
bagi pengajar untuk membantu siswa didik dalam mengembangkan kognitif,
emosional, sosial, fisik, dan spiritual. Secara umum, terdapat tiga
macam teori belajar yang sudah dikenal, yakni: Teori belajar Behavioristisme,
Teori Belajar Kognitif dan Teori Belajar Konstruktivistisme. Teori belajar
kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi
dalam akal pikiran manusia karena manusia akan selalu belajar dalam segala
aspek kehidupannya.
II.
Tujuan Penulisan
1.
Dapat menguraikan definisi teori belajar kognitif (C2).
2.
Dapat menyebutkan tokoh-tokoh teori belajar kognitif (C1).
3.
Dapat membuat RPP berdasarkan teori belajar kognitif (P2).
III.
Teori Belajar Kognitif
A. Pengertian
teori belajar kognitif
Istilah
“Cognitive” berasal dari kata cognition yang
berarti mengerti, pengertian. Kognitif adalah proses yang terjadi secara
internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne
dalam Jamaris, 2006). Pengertian yang
luasnya cognition adalah perolehan,
penataan, dan penggunaan pengetahuan(Neisser, 1976).
Menurut
para ahli jiwa kognitifis, tingkah laku seorang anak itu senantiaasa didasarkan
pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah
laku itu terjadi. Fokus utama
dari psikologi kognitif adalah begaimana orang memperoleh, memproses, dan
menyimpan informasi. Kognitif merupakan salah satu aspek penting dari
perkembangan peserta didik yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran
dan sangat menentukan keberhasilan mereka disekolah. Guru sebagai tenaga
kependidikan yang bertanggung jawab melaksanakan interaksi edukatif didalam
kelas, perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang perkembangan kognitif
peserta didiknya.
Teori
belajar kognitif menjelaskan belajar dengan memfokuskan pada perubahan proses
mental dan struktur yang terjadi sebagai hasil dari upaya untuk memahami dunia.
teori belajar kognitif yang digunakan untuk menjelaskan tugas-tugas yang
sederhana seperti mengingat nomor telepon dan kompleks seperti pemecahan
masalah yang tidak jelas.
B.
Teori belajar kognitif menurut beberapa tokoh
1.
Teori Kognitif Jean Piaget
Tahap
|
Usia/Tahun
|
Gambaran
|
Sensorimotor
|
0 – 2
|
Bayi bergerak dari tindakan refleks instinktif pada
saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu
pemahaman tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman sensor
dengan tindakan fisik
|
Preoperational
|
2 – 7
|
Anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata
dan gambar-gambar ini menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan
melampaui hubungan informasi sensor dan tindak fisik.
|
Concrete
operational
|
7 – 11
|
Pada saat ini anak dapat berfikir secara logis
mengenai peristiwa-peristiwa yang konkrit dan mengklasifikasikan benda-benda
kedalam bentuk-bentuk yang berbeda.
|
Formal operational
|
11 – 15
|
Anak remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak
dan logis. Pemikiran lebih idealistik.
|
Piaget percaya bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap
atau periode-periode yang terus bertambah kompleks. Piaget juga menyakini bahwa
pemikiran seorang anak berkembang melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa
bayi hingga masa dewasa. Kemampuan bayi melalui tahap-tahap tersebut bersumber dari tekanan biologis untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) serta adanya
pengorganisasian strukur berfikir. Tahap-tahap pemikiran ini secara kualitatif
berbeda pada setiap individu. Demikian juga, corak pemikiran seorang anak pada
satu tahap berbeda dari corak pemikirannya pada tahap lain. Tahap-tahap
perkembangan pemikiran ini dibedakan piaget atas 4 tahap, yaitu tahap pemikiran
sensoris-motorik , praoperasioanal, operasional kongkret, dan operasional
formal. Akan tetapi, piaget tidak menetapkan secara tegas batasan-batasan umur
pada masing – masing tahap. Batasan umur pada masing – masing tahap diberikan
oleh Ginsburg dan Opper ( Mussen, et all, 1969).
Tahap-tahap
perkembangan menurut Piaget ini diringkas dalam tabel beriku
2.
Teori Kognitif
Menurut Bruner
Perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Bruner
terbagi mejadi tiga tahap, yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Selanjutnya,
ketiga tahap perkembangan ini disebut sebagai model dalam menyajikan pelajaran.
Ketiga model penyajian ini adalah.
a. Penyajian enaktif
Penyajian enaktif adalah penyajian yang dilakukan
melalui tindakan. Penyajian seperti ini sangat diperlukan oleh anak-anak yang
mulai dapat memahami beberapa aspek realita atau kejadian tanpe menggunakan
imajinasinya atau kata-kata. Ia akan dapat memahami sesuatu dari berbuat atau
melakukan sesuatu.
b. Penyajian ikonik
Penyajian ikonik dilakukan
melalui serangkaian gambar-gambar atau sesuatu yang menggambarkan suatu konsep
tetapi tidak mendefinisikannya. Penyajian ini bergantung pada visual organisasi
sensorik anak.
c. Penyajian simbolik
Bahasa adalah dasar penyajian simbolik. Penyajian
simbolik ini dibuktikan oleh kemampuan seseorang untuk memikirkan proposisi
dibandingkan objek. Pada tahap ini, mungkin seorang anak sudah dapat
menerangkan sesuatu hal atau mungkin proses terjadinya sesuatu.
3. Teori kognitif menurut Vigotsky
Lev Semyonovic Vigotsky dilahirkan di Rusia pada 1896.
Ia berasal dari keluarga Yahudi yang terpelajar, pada usia 15 tahun ia dijuluki
profesor cilik karena reputasinya dalam memimpin diskusi-diskusi mahasiswa.
Vygotsky memperoleh gelar sarjana dalam bidang hukum dari Moscow University. Ia
juga menggeluti literatur linguistik, kesenian, ilmu sosial, dan filsafat. Ia
kemudian tertarik dalam bidang psikologi, dan menjadi pelopor teori belajar
yang berbasis pada perkembangan sosial. Selama bekerja di bidang psikologi di
negara bagian barat Rusia, ia menemukan anak-anak yang cacat sejak lahir, buta,
tuli, dan terbelakang mental. Kemudian mencari cara untuk mengatasi masalah
potensial anak-anak dengan isu dalam perkembangan kognitif.
3.1. Pokok-pokok teori Vygotsky
Proses belajar menurut Vigotsky
terjadi dalam wilayah Zone Proximal Development (ZPD), yakni wilayah antara apa
yang diketahui dan apa yang belum diketahui. Vigotsky mendefinisikannya
untuk tugas-tugas yang sulit dikuasai sendiri oleh siswa, tetapi dapat dikuasai
dengan bimbingan dan bantuan orang dewasa atau siswa yang lebih terampil
(Santrock, 1995 dalam Rita Eka Izzati dkk). Vygotsky berfokus pada koneksi
antara orang-orang dan konteks budaya di mana mereka bertindak dan saling
berhubungan atau saling berbagi pengalaman. Menurutnya manusia menggunakan
tools yang bersumber dari suatu kultur, termasuk bahasa lisan dan tulisan yang
dimediasi oleh lingkungan sosial. Dia juga percaya bahwa pada awalnya anak-anak
mengembangkan tools ini untuk melayani fungsi sosial, dan mengomunikasikan
kebutuhan-kebutuhannya. Internalisasi nilai-nilai budaya melalui interaksi
sosial mendorong kemampuan dan keterampilan berpikir. Kemampuan berpikir dan
berbicara/bahasa tidak dapat eksis tanpa pergaulan sosial.
Gambar 1: Peserta didik ikut berpatisipasi dalam KBM. Ketika Pieget mengobservasi anak-anak muda yang
berpartisipasi dalam suatu percakapan egosentris, ia menganggapnya bahwa anak
tersebut berada dalam fase preoperational. Sebaliknya, Vigotsky memandang
egosentris bahasa dan percakapan semacam itu sebagai transisi dari proses
sosial dalam bahasa ke pemikiran internal.(Driscoll, 1994). Menurutnya ada
hubungannya antara berfikir dengan bahasa.
Bahasa dan berpikir mulanya adalah independen satu dengan lainnya. Dalam
bentuknya paling awal bahasa berfungsi untuk mengeskpresikan perasaan dan
fungsi sosial lain, wujudnya menangis, berteriak, mengeluh, bersorak, dan
semacamnya, ia menyebutnya thoughtless language. Dalam bentuknya
paling awal berfikir berfungsi untuk memecahkan masalah, di mana berfikir tanpa
bahasa (languageless thought).
Sebagaimana halnya
Pieget, sebagai ahli psikologi kognitif, Vigotsky, sebagai seorang pakar
psikologi kognitif berorientasi pada pengembangan kognitif dan gagasan tentang
peran budaya dan aplikasinya secara langsung dalam proses belajar mengajar di
kelas.
IV.
Analisis Teori
Teori belajar kognitif didasarkan pada
keyakinan bahwa peserta didik aktif dalam upaya untuk memahami bagaimana dunia
bekerja, kepercayaan ini konsisten dengan Piaget dan Vygotsky tentang
pemandangan pengembangan pelajar. Pembelajar melakukan lebih dari sekedar
menanggapi. Mereka mencari informasi yang membantu mereka dari jawaban
pertanyaan, mereka memodifikasi pemahaman mereka berdasarkan pengetahuan baru,
dan perubahan sikap mereka dalam menanggapi peningkatan pemahaman.
Teori
belajar kognitif didasarkan pada empat prinsip dasar:
- Pembelajaran
aktif dalam upaya untuk memahami pengalaman.
- Pemahaman
bahwa pelajar mengembangkan tergantung pada apa yang telah mereka ketahui.
- Belajar
membangun pemahaman dari pada catatan.
- Belajar
adalah perubahan dalam struktur mental seseorang.
V.
Kreativitas dan
inovasi
Berdasarkan
teori kognitif terdapat beberapa ayat yang berhubungan dengan teori tersebut,
antar lain:
1. Al-Qur’an
Surat Al-Baqarah ayat 13, artinya:
“Apabila
dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah
beriman”. Mereka menjawab:”Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh
itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang bodoh tetapi
mereka tidak tahu.”
Pengertian ayat tersebut ialah
orang-orang bodoh tetapi mereka tidak tahu, tidak tahu kepada siapa mereka
beriman, pecerminan keimanan karena mereka tidak belajar mengenai keimanan
mereka. Jadi seorang yang belajar mengenai keimanan, menghafal rukun-rukun
iman, memahami arti iman sesungguhnya maka secara tidak langsung mereka telah
mempraktekan teori kognitif.
2. Al-Qur’an
Surat Al-Iqra’ ayat 1 , artinya:
(1). Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan
Pengertian
ayat tersebut ialah sebuah perintah kepada kita untuk membaca, tetapi ketika
kita tidak memiliki pengetahuan baca maka kita tidak dapat menjalankan perintah
tersebut. Teori kognitif yang menganut pengetahuan-pengetahuan dasar akan ilmu
membuat kita lebih memahami akan suatu perintah.
3. Al-Qur’an
Surat Al-Mujadila ayat 11, artinya:
“Hai
orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam
majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan
apabila dikatakan:”Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
Pengertian
ayat tersebut ialah perintah kepada suatu hal, jika kita tidak mengetahui hal
yang diperintahkan tersebut maka kita akan bertanya dan terjadilah proses
pembelajaran yang merupakan bagian dari teori kognitif.
4. Hadits
Nabi:
·
“Dari
Ibnu Abbas RA berkata: bagi orang-orang yang berilmu (ulama) beberapa derajat
diatas derajat orang mukmin dengan berbanding 700 derajat. Antara derajat yang
satu dengan yang lain mencapai 500 tahun dikatakan: “ilmu lebih utama dari amal
melalui 5 sistem: 1) Ilmu tanpa amal pun tetap ada, dan amal tanpa ilmu tak
akan bisa, 2) Ilmu tanpa amal bisa manfaat, dan amal tanpa ilmu tak ada
manfaatnya, 3) Amal adalah permistian, dan ilmu yang menerangi seperti lampu,
4) Ilmu adalah ucapan para nabi, 5) Ilmu adalah sifat Allah, dan amal adalah
sifatan hamba, sementara sifat Allah lebih utama dari sifatan Hamba”. (Durrotun
Nasihin) (H.R. Ahmad)
·
“Ibnu
Mas’ud RA berkata: kalian mesti berilmu (menguasai ilmu) sebelum mati
menjemput. Maka demi “dzat” yang menguasai diri yang menyayangi seseorang yang
meninggal di jalan Allah dengan mati syahid. Sesungguhnya Allah akan
membangkitkannya (ulama) karena kemuliaannya. Sesungguhnya seorang dilahirkan
tanpa ilmu dan ilmu bisa di dapat melalui dipelajari”. (H.R. Tirmidzi)
Hadits
tersebut sangat jelas untuk kita bahwa ilmu bisa di dapat melalui pembelajaran
dan pembelajaran adalah kegiatan inti menghafal, mengenal, dan memahami suatu ilmu yang merupakan proses dari teori
kognitif.
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan Teori Kognitif
Jenjang Pendidikan : SMP
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : IX/II
Alokasi Waktu :
2x40 menit
A. Standar Kompetensi
Memahami dan mengerti arti Statistika
B. Kompetensi Dasar
1. Mengingat bentuk persoalan yang berkaitan
dengan statistika (C1).
2. Menerapkan permasalah statistika pada rumus
yang sesuai (P2).
C. Indikator
1. Mengenali persoalan tentang statistika (C1).
2. Memberi contoh persoalan mengenai statistika
dalam kehidupan sehari-hari (C2).
4. Membedakan rumus statistika dengan rumus yang
hapir serupa (C2).
5. Memecahkan permasalahan statistika dengan
rumus yang tepat (C4).
D. Tujuan Pembelajaran
PB 8: Perkembangan Kognitif
Tujuan kognitif atau Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup
kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang
menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.
3.1. Siswa mampu menjelaskan penyelesaian statistika dengan rumus yang tepat.
PB 3: Perkembanagan Psikomotorik
Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani,
keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Ketrampilan ini dapat
diasah jika sering melakukannya. Perkembangan tersebut dapat
diukur sudut kecepatan, ketepatan, jarak, cara/teknik pelaksanaan.
3.2. Siswa mampu mempraktekkan rumus statistika pada soal yang sesuai.
PB 9: Perkembangan Konsep diri dan Emosi
Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep
diri merupakan faktor bentukan dari pengalaman individu selama
proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses pembentukan
tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi
secara berkesinambungan.
3.3. Siswa mampu menunjukkan rumus yang sesuai dengan soal
3.3. Siswa mampu menunjukkan rumus yang sesuai dengan soal
Materi Pembelajaran
1. Pengenalan statistika
2. Rumus statistika
3. Pembahasan soal
Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Menjawab soal-soal
Sumber Belajar
1. Buku siswa Matematika kelas IX2. Modul Matematika tingkat SMP
Media Pembelajaran
1. Media
a. Power Point dengan tema Statistika
2. Alat
a. Laptop
b. Papan Tulis
c. Spidol, penghapus dan kertas plano
Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan
siswa dan membaca basmalah
b. Guru bertanya dan menjawab tentang materi yang akan dibahas
c. Guru memberikan motivasi kepada peserta didik
Kegiatan Inti
a. Guru menjelaskan pengertian statistika
c. Guru menjelaskan rumus statistika
Penutup
a. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menanyakan hal hal yang belum dimengerti
b. Guru menyimpulkan materi yang telah dibahas
c. Guru memberikan reward atau penghargaan kepada peserta didik
d. Guru memberikan salam penutup dan mengucapkan hamdalah
d. Guru memberikan salam penutup dan mengucapkan hamdalah
Budiningsih, A.C. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung :PT. Refika Aditama.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung :PT. Remaja Karya.
Suparno, P.1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.Yogyakarta : Kanisius.


Gambar 1